MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS : Apa itu Karunia? (Denny Teguh Sutandio)

MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 1: Apa itu Karunia?

oleh: Denny Teguh Sutandio  (http://www.facebook.com/dennyteguhsutandio)




Ketika kita mendengar kata “karunia-karunia Roh Kudus”, apa yang ada di benak Anda? Banyak dari kita langsung mengaitkannya dengan karunia bahasa lidah. Apakah karunia Roh Kudus pasti identik dengan karunia bahasa lidah? Bagi saya, itu adalah kesimpulan yang terlalu gegabah, karena Alkitab TIDAK pernah mengidentikkannya. Supaya kita lebih mengerti lebih akurat dan bertanggung jawab, adalah bijak jika kita mempelajari apa kata Alkitab tentang karunia-karunia Roh Kudus. Di bagian ini, kita akan belajar prinsip-prinsip dasar tentang karunia-karunia Roh Kudus dan diharapkan melalui pelajaran di bab ini, kita makin mengerti apa itu karunia-karunia Roh Kudus dan menggunakannya sesuai dengan karunia yang Allah berikan (bukan memaksa Tuhan untuk memberikan karunia kepada kita).
DEFINISI KARUNIA
Sebelum membahas tentang karunia-karunia Roh Kudus, kita akan belajar apakah karunia itu.
Dalam bahasa Yunani, kata dasar untuk karunia adalah χαρίσμα (kharisma) yang berarti:


  1. Suatu Pemberian (gift) yang Diberikan Gratis Kepada Semua Orang Percaya
Kata kharisma yang berarti suatu pemberian yang diberikan gratis ini dapat dijumpai di dalam Perjanjian Baru: Roma 1:11; 5:15-16; 6:23; 11:29; 1 Korintus 1:7; 2 Korintus 1:11. Sebagian ayat-ayat di atas (Rm. 5:15-16; 6:23; 11:29) mengaitkan kata kharisma dengan anugerah penebusan di dalam Kristus yang diperoleh oleh semua orang percaya yang telah ditentukan Allah untuk menjadi anak-anak-Nya. Sebagian lain mengaitkan kharisma dengan karunia-karunia umum yang diperoleh oleh setiap orang percaya tanpa kecuali.


2. Pemberian Khusus Kepada Beberapa Orang Kristen
Selain itu, kata kharisma juga berarti pemberian khusus kepada beberapa orang Kristen. Pemberian khusus ini bisa termasuk karunia-karunia khusus maupun karunia-karunia rohani di dalam pembangunan tubuh Kristus.
Kata kharisma yang berarti karunia khusus[1] terdapat dalam 1 Korintus 7:7. Menurut konteks 1 Korintus 7, Paulus sedang membahas tentang pernikahan. Nah, di ayat 7, Paulus sedang membahas tentang karunia menikah atau tidak menikah. Dengan kata lain, karunia khusus yang sedang dibahas Paulus adalah karunia untuk menikah atau tidak menikah dan tentunya karunia ini saya sebut sebagai karunia yang kurang berkaitan erat dengan pembangunan tubuh Kristus. Saya mengatakan “kurang berkaitan erat”, bukan “tidak berkaitan erat”, karena saya menyadari bahwa karunia ini tetap berkaitan dengan pembangunan tubuh Kristus, meskipun porsinya kurang signifikan dibandingkan karunia-karunia rohani yang akan dibahas selanjutnya. Mengapa? Karena orang-orang percaya di dalam tubuh Kristus melihat apakah kita memiliki karunia single atau menikah, tetapi mereka tidak akan mengkhususkan orang-orang yang memiliki karunia single ke dalam satu kelompok yang berbeda dari orang-orang yang menikah. Sedangkan mereka yang memiliki karunia-karunia rohani seperti mengajar akan dikumpulkan menjadi satu tim di dalam pembangunan tubuh Kristus, begitu juga halnya orang-orang yang memiliki karunia menggembalakan, dll. Tidak mungkin orang yang memiliki karunia mengajar dikumpulkan dengan orang yang berkarunia menggembalakan.
Sedangkan kata kharisma yang berarti karunia-karunia rohani yang berkaitan dengan pembangunan tubuh Kristus terdapat dalam: Roma 12:6; 1 Korintus 12:4, 9, 28, 30 dst; 1 Timotius 4:14; 2 Timotius 1:6; dan 1 Petrus 4:10. Hal ini akan dibahas pada poin selanjutnya.



Catatan kaki:
[1] Saya menafsirkan karunia-karunia khusus ini sebagai karunia-karunia khusus yang bersifat pribadi yang kurang berkaitan erat dengan pembangunan tubuh Kristus.




MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 2: Definisi dan Tujuan Karunia-karunia Roh Kudus

oleh: Denny Teguh Sutandio



Setelah mengerti definisi karunia, maka saat ini, kita akan mencoba mengerti tentang karunia-karunia Roh Kudus mulai dari definisi, tujuan, dan jenis-jenisnya.

A.        Definisi Karunia-karunia Roh Kudus
Kalau kita membaca kembali definisi karunia di poin I di atas, maka karunia-karunia Roh Kudus berarti suatu pemberian dari Allah kepada beberapa orang percaya secara berlainan di dalam pembangunan tubuh Kristus. Atau mengutip perkataan Prof. Wayne Grudem, Ph.D., D.D., karunia rohani (spiritual gift) adalah “any ability that is empowered by the Holy Spirit and used in any ministry of the church.”[1] (kemampuan apa saja yang diberi kuasa oleh Roh Kudus dan digunakan dalam pelayanan gereja apa saja)
Dari definisi ini, kita belajar bahwa karunia-karunia rohani/Roh Kudus apa saja merupakan suatu pemberian dari Allah secara berbeda kepada setiap orang percaya dan tanpa pemberian dari Allah, tak mungkin satu manusia pun bisa memperolehnya.
Lalu, timbul pertanyaan, apakah karunia-karunia rohani identik dengan bakat seseorang? Mungkinkah seorang yang dari lahir berbakat mengajar kemudian setelah lahir baru, ia memiliki karunia mengajar? Alkitab tidak membicarakan hal tersebut secara detail. Namun demikian, kita bisa menjawabnya: YA dan TIDAK. Secara esensi, karunia rohani dan bakat adalah dua hal berbeda baik dari sumber, sifat, maupun tujuan. Dr. Leslie B. Flynn dalam bukunya 19 Karunia Roh membedakannya:[2]

BAKAT:
Sumber: Rahmat biasa dari Roh
Saat Pemberian: Diberikan sejak kelahiran alami
Sifat: Kemampuan alami
Tujuan: Pengajaran, hiburan, inspirasi dalam tingkat alami

KARUNIA:
Sumber: Rahmat istimewa dari Roh
Saat Pemberian: Diberikan sejak kelahiran baru
Sifat: Anugerah rohani
Tujuan: Pertumbuhan rohani orang-orang kudus; pelayanan Kristen

Paulus sebelum bertobat, saya yakin, tidak memiliki bakat mengurus orang (dalam arti menggembalakan), karena ia adalah seorang ahli Taurat yang belajar di bawah Gamaliel (mungkin sekali ia bakat mengajar), namun Roh Kudus memberikan karunia begitu banyak kepada Paulus, termasuk memberitakan Injil, menggembalakan, dll. Kalau kita membaca latar belakang ditulisnya surat Paulus kepada jemaat Korintus, kita akan mengerti seberapa Paulus memperhatikan jemaat ini (semangat seorang gembala) yang tidak ada bandingannya dengan para gembala gereja saat ini. Perhatiannya kepada jemaat ini ditunjukkan baik melalui isi suratnya, namun juga respons jemaat terhadap isi suratnya. Menurut sejarah, surat itu ditulis Paulus sebanyak 4 buah, namun yang kita terima ada 2 buah. Diduga, mungkin dua surat Paulus lainnya hilang atau sengaja tidak Tuhan letakkan di dalam kanonisasi Alkitab. Hal ini akan dibahas pada bab-bab selanjutnya ketika membahas bahasa lidah dalam Surat-surat Korintus.
Meskipun bakat dan karunia adalah dua hal berbeda, namun Roh Kudus bisa saja memakai bakat alami seorang percaya untuk melayani Tuhan melalui karunia yang Roh berikan (tambahan). Dr. Leslie B. Flynn, misalnya, mencontohkan, “Lukas, sebagai tambahan pada kemampuan alaminya  dalam bahasa Yunani, pengamatan yang cermat, dan keakuratan sejarah, diberi, di antara yang lainnya, karunia untuk mengajar, yang menggunakan kecakapan-kecakapan alami ini.”[3] Namun, meskipun Roh Kudus bisa memakai bakat alami seseorang untuk melayani-Nya melalui karunia rohani yang ditambahkan, perlu diingat bahwa semua karunia rohani dan bakat alami yang ada pada seseorang hendaklah dipakai untuk memuliakan Allah, bukan untuk memuliakan diri.


B.        Tujuan Karunia-karunia Roh Kudus
Kalau kita memperhatikan lagi definisi karunia-karunia Roh Kudus di poin A yang berdasarkan 1 Korintus 12, kita mendapatkan penjelasan bahwa karunia-karunia Roh Kudus dipergunakan untuk pembangunan tubuh Kristus. Setelah membahas variasi karunia di 1 Korintus 12:8-10, maka di ayat 11, Paulus mulai menjelaskan pentingnya satu tubuh Kristus, meskipun memiliki beraneka ragam karunia rohani pada diri masing-masing orang percaya. Selanjutnya, mulai ayat 15-24, ia mulai menjelaskan hal ini dengan menggunakan perumpamaan anggota-anggota tubuh di mana mata memerlukan telinga, telinga membutuhkan mata, kaki memerlukan mata, dst. Allah menyusun anggota-anggota tubuh kita begitu rupa, “supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.” (ay. 25). Dengan analogi ini, maka ia mengatakan, “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” (ay. 27)
Jika kita adalah anggota-anggota tubuh Kristus yang berbeda-beda, namun tetap satu, maka hendaklah kita mempergunakan masing-masing karunia-karunia yang telah Roh Kudus berikan kepada kita untuk saling membangun tubuh Kristus. Mereka yang dikaruniai karunia mengajar hendaklah mengajar dengan benar, mereka yang mendapat karunia menggembalakan, gembalakan saudara seiman dengan kasih, dst.
Dan perlu diingat, menurut Prof. Wayne Grudem, Ph.D., D.D., semua karunia ini diperlukan bagi pembangunan tubuh Kristus sampai Kristus datang kedua kalinya (1Kor. 1:7).[4]





Catatan Kaki:
[1] Wayne Grudem, Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Grand Rapids, Michigan: Inter-Varsity Press, 2007), hlm. 1016.
[2] Leslie B. Flynn, 19 Karunia Roh, terj. Jennifer E. Silas (Batam: Gospel Press, 2001), hlm. 38.
[3] Ibid., hlm. 39.
[4] Wayne Grudem, Systematic Theology, hlm. 1019.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 3: Karunia Perkataan Hikmat (1Kor. 12:8)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Karunia rohani pertama yang dicatat Paulus di 1Kor. 12 adalah karunia berkata-kata dengan hikmat. Kata “berkata-kata” dalam ayat ini dalam teks Yunaninya adalah λόγος (logos) yang berarti kata.[1] Kata Yunani ini berbentuk kata benda, sehingga lebih tepat diterjemahkan: kata/perkataan (bukan seperti terjemahan LAI: berkata-kata). Young’s Literal Translation (YLT) menerjemahkannya: a word of (sebuah kata). Lalu, kata hikmat dalam bahasa Yunaninya adalah σοφίας (sophias) yang berbentuk kata benda, genitif (kepemilikan), feminin, dan tunggal dari kata sophia. Pertanyaan selanjutnya, apakah hikmat sama dengan pengetahuan? Dalam teks Yunani di ayat 8 ini, antara kata hikmat dan kata pengetahuan dipisahkan dengan kata sambung δὲ (de) (=tetapi/dan),[2] sehingga antara hikmat dan pengetahuan bukanlah dua hal yang sama. Di dalam bagian lain, di Kolose 2:3, kedua kata ini muncul kembali dan antara kedua kata ini dipisahkan dengan kata sambung καὶ (kai) (=dan).
Mayoritas kata hikmat (Yun.: sophia) yang muncul dalam Perjanjian Baru selalu berkaitan erat dengan Allah. Dari 25x kata sophia yang muncul di Perjanjian Baru, 18x berkaitan erat dengan Allah. Di dalam Perjanjian Lama, di dalam bahasa Ibrani, hikmat adalah  חָכְמָ֥ה(Hokmāh) yang berarti hikmat, kebijaksanaan, kepandaian, kecerdikan (1Raj. 5:10).[3] Kata ini muncul sebanyak 140x (Amsal: 32x, Pengkhotbah: 28x, dan Ayub 18x) dan kata ini bisa berarti: [4]
1.      technical skill, aptitude 1K 7:14; (kemampuan teknis, kemampuan alamiah; 1Raj. 7:14[5])
2.      experience, good sense: wise woman 2S 20:22, political 1K 2:6; (pengalaman, pemikiran logis: perempuan bijaksana—2Sam. 20:22, politik—1Raj. 2:6)
3.      worldly wisdom of the benê qedem & of Egypt 1K 5:10; (hikmat duniawi dari bangsa-bangsa di Timur dan Mesir—1Raj. 5:10[6])
4.      wisdom of godly Isr. Ps 90:12; (bijaksana Israel yang saleh: Mzm. 90:12)
5.      God’s wisdom 1K 3:28; okmat mal˒ak ˒elōhîm 2S 14:20; rûa okmâ Dt 34:9; (hikmat Allah: 1Raj. 3:28; okmat mal˒ak ˒elōhîm: 2Sam. 14:20; rûa okmâ: Ul. 34:9[7])
6.      personified Wisdom Jb 28:12ff Pr 8:1, 36 (Hikmat yang dipersonifikasikan: Ayb. 28:12dst; Ams. 8:1, 36).
Jika demikian, apa arti “kata hikmat”? Rev. J. Wesley Brill menafsirkannya sebagai bijaksana.[8] Uniknya, Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D. menafsirkan “kata hikmat” merujuk pada berita tentang Kristus yang tersalib yang adalah hikmat Allah sejati.[9] Saya menafsirkan “kata hikmat” sebagai suatu karunia perkataan bijaksana yang berpusat pada bijaksana/hikmat Allah di dalam Kristus (1Kor. 1:30). Mungkin bisa dikatakan karunia perkataan hikmat ini identik dengan karunia perkataan Injil.



Catatan Kaki:
[1] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia Jilid 1 (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2006), hlm. 928.
[2] λόγος σοφίας ἄλλῳ δὲ λόγος γνώσεως (logos sophias allō de logos gnōseōs)
[3] D. L. Baker dan A. A. Sitompul, Kamus Singkat Ibrani Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hlm. 25.
[4] William Lee Holladay, Ludwig Koehler, and Walter Baumgartner, A Concise Hebrew and Aramaic lexicon of the Old Testament (Leiden: Brill, 2000), hlm. 104.
[5] LAI menerjemahkannya, “keahlian”.
[6] Di LAI, teksnya: 1Raj. 4:29, “Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut,
[7] LAI menerjemahkannya, “kebijaksanaan”.
[8] J. Wesley Brill, Tafsiran Surat Korintus Pertama (Bandung: Kalam Hidup, 2003), hlm. 246.
[9] Gordon D. Fee, God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1994), hlm. 166-167.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 4: Karunia Perkataan Pengetahuan (1Kor. 12:8)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Setelah perkataan hikmat, Paulus mencatat karunia kedua, yaitu berkata-kata dengan pengetahuan. Seperti yang telah dijelaskan di poin 1, terjemahan LAI kurang tepat, karena kata yang dipakai adalah logos berbentuk kata benda tunggal, sehingga lebih tepat diterjemahkan kata/perkataan pengetahuan. Kata “pengetahuan” dalam ayat ini dalam teks Yunaninya γνώσεως (gnōseōs) yang merupakan kata benda genitif (kepemilikan), feminin, tunggal dari kata Yunani γνῶσις (gnōsis) yang artinya knowledge (pengetahuan). Kata γνῶσις (gnōsis) sendiri dalam bentuk kata kerja menjadi γινώσκω (ginōskō) artinya mengetahui (Rm. 11:34).
Lalu, apa arti “perkataan pengetahuan”? Rev. J. Wesley Brill menafsirkannya sebagai pengetahuan akan firman Allah.[1] Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. dalam bukunya Showing the Spirit menafsirkannya sebagai mengetahui Allah dan kehendak-Nya.[2] Saya pribadi lebih cenderung memilih tafsiran D. A. Carson yang merujuk pada pengenalan akan Allah dan kehendak-Nya (di dalam Kristus). Mengapa? Karena kalau kita memperhatikan kembali konteks 1Kor. 12, tujuan diberikannya karunia-karunia Roh adalah untuk pembangunan tubuh Kristus dan itu didahului oleh pengakuan akan partisipasi Roh Kudus di dalamnya (1Kor. 12:3). Dan karena Roh Kudus diutus untuk memuliakan Kristus (Yoh. 15:26; 16:14), maka otomatis karunia perkataan pengetahuan berarti ada jemaat yang diberi karunia perkataan pengetahuan akan Allah dan kehendak-Nya di dalam Kristus.
Baik Prof. David E. Garland, Ph.D. maupun Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D., mereka mengutip Prof. James D. G. Dunn, Ph.D., D.D. yang mengatakan bahwa yang disebut karunia (charismata) bukan hikmat dan pengetahuan, tetapi perkataan hikmat dan pengetahuan.[3] Mengapa? Rev. J. Wesley Brill menafsirkannya: karena pengetahuan bisa disalahgunakan dan dicampuradukkan dengan ajaran sesat yang mengakibatkan ajaran Gnostisisme.[4]



Catatan Kaki:
[1] J. Wesley Brill, Tafsiran Surat Korintus Pertama (Bandung: Kalam Hidup, 2003), hlm. 246.
[2] D. A. Carson, Showing the Spirit, hlm. 29.
[3] David E. Garland, Baker Exegetical Commentary on the New Testament: 1 Corinthians (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2007), hlm. 581; bdk. Gordon Fee, God’s Empowering Presence, hlm. 168.
[4] J. Wesley Brill, Tafsiran Surat Korintus Pertama, hlm. 246.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 5: Karunia Iman (1Kor. 12:9)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Karunia ketiga yang disebutkan Paulus adalah karunia iman. Kata Yunani untuk “iman” di ayat ini adalah πίστις (pistis) yang bisa berarti kepercayaan, iman, komitmen, dll. Namun dalam konteks ini, “iman” tentu tidak berarti kepercayaan kepada Kristus yang dimiliki semua orang percaya (iman yang menyelamatkan atau saving faith), tetapi “iman” di sini lebih berarti karunia percaya kepada Allah yang bekerja secara dahsyat di luar kemampuan manusia. Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D. menyebutnya supernatural faith (iman supranatural),[1] sedangkan Prof. David E. Garland, Ph.D. menyebutnya internal trust in God (kepercayan internal di dalam Allah).[2]
Karunia iman ini mengingatkan kita akan karunia iman yang dimiliki oleh seorang George Muller dari Bristol, Inggris yang terus beriman kepada Allah yang pasti memelihara pelayanannya kepada anak-anak yatim piatu. Dr. Billy Graham menceritakan, “Muller menolak untuk minta uang bahkan serupiah pun kepada orang lain, tetapi ia berdoa agar Tuhan menyediakan uang baginya.”[3]



Catatan Kaki:
[1] Gordon D. Fee, God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1994), hlm. 168.
[2] David E. Garland, Baker Exegetical Commentary on the New Testament: 1 Corinthians (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2007), hlm. 581
[3] Billy Graham, Roh Kudus: Kuasa Allah dalam Hidup Anda, terj. Susie Wiriadinata (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2002), hlm. 243.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 6: Karunia Kesembuhan (1Kor. 12:9, 28, 30)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Selanjutnya, Paulus menyebut karunia menyembuhkan. Kata “menyembuhkan” dalam LAI tidak tepat. Dalam teks Yunaninya, “menyembuhkan” adalah ἰαμάτων (iamatōn) yang berbentuk kata benda, genitif (kepemilikan), netral, dan jamak dari kata Yunani ἴαμα (iama).[1] Kata ini hanya dipakai 3x di dalam Perjanjian Baru yaitu di 1Kor. 12:9, 28, dan 30. Dan menariknya, khusus karunia ini, teks Yunani menambahkan kata χαρίσματα (kharismata), sehingga menjadi: χαρίσματα ἰαμάτων (kharismata iamatōn). Penggunaan kata kharismata di sini menurut Prof. David E. Garland, Ph.D. merupakan kekhususan untuk membedakan karunia kesembuhan dengan kesembuhan yang diperoleh melalui pengobatan medis.[2]
Penggunaan bentuk jamak dari kata Yunani untuk “kesembuhan” (iamatōn), menurut Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. mengindikasikan,
there were different gifts of healings: not everyone was getting healed by one person, and perhaps certain persons with one of there gifts of healing could by the Lord’s grace heal certain diseases or heal a variety of disease but only at certain times.[3]
ada karunia-karunia kesembuhan-kesembuhan yang berbeda: tidak setiap orang disembuhkan oleh satu orang, dan mungkin beberapa orang dengan satu dari karunia-karunia kesembuhan, atas anugerah-Nya, dapat menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu atau menyembuhkan berbagai penyakit tetapi hanya pada saat-saat tertentu.
Dari sini, kita belajar bahwa orang yang mendapat karunia kesembuhan adalah mereka yang diberi karunia untuk menyembuhkan orang sakit, namun hasil akhirnya bergantung pada kedaulatan Allah yang bisa menyembuhkan penyakit orang lain maupun tidak menyembuhkan sama sekali.



Catatan kaki:
[1] Seharusnya diterjemahkan, “karunia kesembuhan”.
[2] David E. Garland, 1 Corinthians, hlm. 581.
[3] D. A. Carson, Showing the Spirit, hlm. 30.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 7: Karunia Pekerjaan Kuasa (1Kor. 12:10, 28)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Kemudian, Paulus menyebut karunia mengadakan mujizat (LAI). Teks Yunaninya adalah ἐνεργήματα δυνάμεων (energēmata dunameōn). Kata ἐνεργήματα (energēmata) berbentuk kata benda, nominatif (subjek kalimat), netral, dan jamak dari kata ἐνέργημα (energēma). Kata ini berarti working (cara kerja), activity (pekerjaan). Kata δυνάμεων (dunameōn) berbentuk kata benda, genitif (kepemilikan), feminin, dan jamak dari kata δύναμις (dunamis) dan dalam konteks ini, kata ini berarti kuasa/kekuatan (power). Kata dunamis yang berarti kuasa dapat dijumpai di Mat. 14:2[1]; 22:29[2]; Kis. 1:8[3]; Rm. 1:4[4]; Kol. 1:11[5]; 2Tim. 3:5[6]; Ibr. 7:16[7]; 2Ptr. 1:3[8]. Dari dua kata ini, kita menggabungkan artinya menjadi: pekerjaan-pekerjaan kuasa-kuasa.[9]
Apa arti karunia pekerjaan kuasa ini? Apakah sama dengan karunia kesembuhan di bagian 4? Tentu tidak sama. Karunia kesembuhan bisa dikategorikan sebagai karunia pekerjaan kuasa, tetapi karunia pekerjaan kuasa tidak identik dengan karunia kesembuhan, karena karunia pekerjaan kuasa bisa meliputi banyak hal selain kesembuhan.
Kalau kita memperhatikan salah satu teks di atas yang menggunakan kata Yunani dunamis seperti di 1Kor. 12:10 yaitu di Kis. 1:8, kita akan mengerti definisi kuasa. Kita akan mencoba menelusuri sepintas di beberapa pasal kitab Kisah Para Rasul ini tentang kuasa Roh yang dijanjikan Kristus di Kis. 1:8 tadi. Di pasal 2 kitab Kisah Para Rasul, kita melihat kuasa Roh dinyatakan melalui gejala: tiupan angin keras dan lidah-lidah api (Kis. 2:2-3), kemudian disusul dengan bahasa lidah (Kis. 2:4). Kuasa Roh ini mencengangkan banyak orang yang berkumpul di Yerusalem waktu itu, sehingga Petrus dan para rasul berkhotbah (Kis. 2:14-40), dan akibatnya 3.000 jiwa bertobat (Kis. 2:41). Satu pasal sesudahnya, dr. Lukas mencatat kuasa Roh melalui Petrus yang menyembuhkan orang lumpuh (Kis. 3:1-10). Di Kis. 4, kuasa Allah nyata melalui Petrus dan Yohanes yang berani bersaksi di depan Mahkamah Agama (ay. 1-22). Bahkan di Kis. 5, dr. Lukas mencatat kuasa Allah yang menyembuhkan dan mengusir setan melalui para rasul (Kis. 5:15-16). Di Kis. 9, dr. Lukas mencatat kuasa Allah melalui Petrus yang menyembuhkan Eneas yang lumpuh dan membangkitkan Dorkas (ay. 32-43). Di Kis. 19, dr. Lukas mencatat kuasa Allah melalui Paulus yang menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan (ay. 11-12).
Dari penyelidikan khusus di kitab Kisah Para Rasul, kita mendapatkan penjelasan bahwa pekerjaan kuasa bisa meliputi kesembuhan, pengusiran setan, dll. Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. menyebutkan beberapa hal termasuk pekerjaan kuasa ini, “exorcisms, nature miracles, and other displays of divine energy.”[10] (=pengusiran setan, mujizat-mujizat alam, dan pertunjukan lain dari kuasa ilahi.)


Catatan kaki:
[1] LAI: “kuasa-kuasa”.
[2] LAI: “kuasa”.
[3] LAI: “kuasa”.
[4] LAI: “berkuasa” (seharusnya teks aslinya berbentuk kata benda).
[5] LAI: “kekuatan”.
[6] LAI: “kekuatan”.
[7] LAI tidak menerjemahkan kata ini. Young’s Literal Translation (YLT): “power of an endless life” (kuasa dari hidup yang tidak binasa).
[8] LAI: “kuasa”.
[9] English Standard Version (ESV), King James Version (KJV), dan Revised Standard Version (RSV): “the working of miracles.” D. A. Carson menerjemahkan arti literalnya: “workings of powers” (pekerjaan-pekerjaan kuasa-kuasa).
[10] D. A. Carson, Showing the Spirit, hlm. 31.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 8: Karunia Nubuat (1Kor. 12:10; 14:22; Rm. 12:6)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Karunia keenam yang disebut Paulus di Surat Korintus atau karunia pertama yang disebut Paulus di Roma 12:6 adalah karunia bernubuat. Bernubuat (LAI) dalam teks Yunaninya adalah προφητείαν (prophēteian) yang merupakan kata benda, berfungsi sebagai akusatif (objek langsung), feminin, dan tunggal dari kata προφητεία (prophēteia).[1] Kata ini berasal dari kata Yunani prophētēs yang berarti nabi (prophet). Dengan kata lain, ada kaitan erat antara nubuat dengan nabi.
Di dalam bahasa Ibrani, nubuat/bernubuat adalah: nibba (1Raj. 22:12)[2] dan kehinnave’i (Yeh. 37:4, 7, 9, 10).[3] Kata dasar dari dua teks Ibrani tadi adalah navi (artinya nabi) (Kej. 20:7).[4]
Apa kata Alkitab tentang nubuat? Mari kita menyelidikinya.
a)            Nubuat sejati berasal dari Allah
Ketika kita membaca kitab Yehezkiel 37, kita mendapatkan penjelasan bahwa Allah menyuruh nabi Yehezkiel untuk bernubuat (ay. 4-6, 9) dan si nabi menyampaikan apa yang difirmankan-Nya (ay. 7, 10).
Bahkan di Amos 3:7, Alkitab mencatat, “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.” Berikut pengakuan seorang Amos ketika hendak diusir imam Amazia,
Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel. Maka sekarang, dengarlah firman TUHAN! Engkau berkata: Janganlah bernubuat menentang Israel, dan janganlah ucapkan perkataan menentang keturunan Ishak. (Am. 7:14-16)
Di kitab Amos ini, kita mendapatkan penjelasan yang lebih detail bahwa Allah yang memerintahkan seorang abdi-Nya untuk bernubuat.

b)            Nubuat diasosiasikan dengan nabi yang bertugas menyampaikan pesan Allah kepada umat atau keturunan tertentu dalam situasi tertentu
Nubuat dikaitkan dengan nabi Hagai dan Zakharia bin Ido yang bernubuat terhadap orang-orang Yahudi yang tinggal di Yehuda dan di Yerusalem di Ezra 5:1. Konteks penulisan kitab ini adalah meneruskan narasi di dalam 2 Tawarikh yang sudah selesai dan menelusuri sejarah kepulangan umat Yahudi dari pembuangan di Babel dan pembangunan kembali Bait Suci.[5] Dalam Vulgata (terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin), kitab Ezra dan Nehemia diberi judul: “1 dan 2 Esdras.”[6]
Selain itu, di dalam 2 Tawarikh 15:8, nubuat dikaitkan dengan nabi Azarya bin Oded. Secara susunan dalam LAI, memang kitab 1 dan 2 Tawarikh diletakkan sebelum kitab Ezra, namun menurut Prof. Andrew E. Hill, Ph.D. dan Prof. John H. Walton, Ph.D. dalam bukunya Survei Perjanjian Lama, kitab 1 dan 2 Tawarikh dibagi menjadi dua kitab ketika teks Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) dan uniknya, di dalam Alkitab Ibrani sendiri, kitab ini terletak setelah kitab Ezra dan Nehemia yang menunjukkan mungkin kitab ini diterima dalam kanon Perjanjian Lama di kemudian hari sebagai tambahan pada tulisan sejarah dalam 1 dan 2 Samuel serta 1 dan 2 Raja-raja. Sejarah dalam kitab ini dimulai dari akhir pemerintahan Saul hingga masa pembuangan Yehuda ke Babel (sekitar 1020-586 SM). Kitab ini bertujuan menekankan jabatan raja Daud dan Salomo untuk menunjukkan kesinambungan sejarah Ibrani pada masa pra-pembuangan dan pasca-pembuangan. Selain itu, kitab ini juga sebagai kitab pengharapan di Yerusalem pada masa pasca-pembuangan dengan meyakinkan mereka bahwa Tuhan Allah yang berdaulat yang telah memimpin pemerintahan Daud dan Salomo juga akan memimpin umat-Nya.[7]
Di dalam Perjanjian Baru, di Injil Matius, Tuhan Yesus mengutip nubuat nabi Yesaya sebanyak 2x, yaitu di Matius 13:14-15[8] dan 15:7-9[9] dan uniknya, kedua teks tadi ditujukan kepada orang Israel yang tegar tengkuk. Dari sini, kita belajar bahwa Kristus pun mengaitkan nubuat dengan pekerjaan seorang nabi yang bertugas menyampaikan pesan Allah kepada umat/keturunan tertentu dalam konteks tertentu.

c)             Nubuat bersifat masa lalu, masa kini, dan masa depan
Selain berasal dari Allah dan disampaikan melalui para nabi, maka nubuat juga harus dimengerti bukan hanya menyangkut hal-hal yang bersifat masa depan, tetapi juga bisa bersifat masa kini. J. A. Motyer, M.A., B.D. dalam penjelasannya tentang nubuat mengatakan,
Pada diri Musa juga ditemukan kombinasi pemberitaan dan nubuat yang terdapat pada semua nabi. Ini mencolok terperinci sebagai satu corak kenabian pada umumnya. Di sini kita hanya mencatat bahwa Musa juga menetapkan norma, yaitu bahwa bila seorang membicarakan kejadian masa kini, dalam pembicaraannya itu sang nabi juga sering membicarakan kejadian akan datang.[10]
Dari sini, kita mendapatkan penjelasan bahwa nubuat selalu bersifat rangkap dua: masa kini dan masa depan. Nubuat di masa depan berfungsi sebagai peringatan bagi umat Israel di masa kini agar mereka bertobat (Yes. 30:6-9) dan hidup kudus (Yes. 2:5).[11]
Prof. David E. Garland, Ph.D. di dalam tafsirannya tentang kata nubuat di dalam 1 Korintus 12:10 mengatakan dwi sifat nubuat ini di dalam Perjanjian Baru yaitu untuk masa depan (Agabus di Kis. 11:28) dan untuk situasi masa kini yaitu untuk membangun dan menghibur (1Kor. 14:3) sekaligus membuat orang lain sadar bahwa Allah hadir (1Kor. 14:25) dan memanggil seseorang bertobat (Why. 11:3).[12]
Selain itu, nubuat juga bersifat masa lalu. Bagaimana mungkin? Rasul Petrus mengungkapkan hal ini di dalam 2Ptr. 1:20-21 berikut ini,
Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. 
Uniknya, semua kata nubuat di kedua ayat ini dalam bahasa Yunaninya berbentuk tunggal, yaitu προφητεία (prophēteia). Kalau kita melihat konteksnya, tentu nubuat dalam Kitab Suci (Yunani: γραφῆς—graphēs) merujuk pada nubuat dalam Perjanjian Lama dan tentu saja Petrus mengaitkan nubuat dengan apa yang sudah terjadi di zaman sebelum Tuhan Yesus.

d)            Allah membenci nubuat-nubuat palsu
Pada poin a) dan b) di atas, kita belajar bahwa nubuat sejati berasal dari Allah dan diasosiasikan dengan nabi, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah dari mana kita mengetahui bahwa nubuat dari seorang nabi itu berasal dari Allah atau tidak. Ada beberapa kriteria yang Allah sendiri ajarkan kepada kita:[13]
(1)          Nubuat palsu tidak terjadi
Allah sendiri memberikan penegasan,
Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? -- apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.” (Ul. 18:21-22)
Memang secara konteks, kitab Ulangan ini ditulis sebagai persiapan bangsa Israel masuk ke Kanaan setelah 40 tahun mengembara di padang gurun.[14] Dengan kata lain, kriteria nubuat palsu adalah ketika nubuat yang disampaikan oleh si nabi tidak terjadi dan Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk tidak gentar menghadapi para nabi palsu tersebut.

(2)          Hasil akhir dari nubuat palsu: menuntun si pendengar menyembah ilah lain di luar Allah
Selain itu, palsu atau tidaknya suatu nubuat diukur dari tujuan/hasil akhirnya. Jika tujuan/hasil akhir dari nubuat tersebut justru mengarahkan seorang yang mendengarkan nubuat tersebut untuk menyembah ilah lain di luar Allah, maka Allah memerintahkan umat-Nya untuk tidak mendengarkan nubuat palsu tersebut. Tuhan sendiri menegaskan hal ini di Ulangan 13:1-3,
Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. 
Bahkan yang lebih mengerikan, Allah sendiri memerintahkan, “Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan--dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.” (Ul. 13:5; bdk. 18:20)

(3)          Nubuat palsu selalu berisi hal yang menyenangkan telinga.
Kriteria terakhir untuk menilai apakah nubuat itu asli atau palsu adalah isi dari nubuat itu. Alkitab mencatat hampir semua nubuat dalam Perjanjian Lama selalu berisi berita pertobatan, peringatan hidup kudus, dan hukuman. Dengan kata lain, setiap nubuat yang tidak berisi hal-hal tadi pasti adalah nubuat palsu. Sejarah Perjanjian Lama mencatat bahwa nubuat-nubuat palsu selalu berisi hal-hal yang menyenangkan dikontraskan dengan nubuat sejati dari para nabi Allah sejati. Mari kita menyelidikinya.
Mari kita membuka nats 1 Raja-raja 22:1-40. Konteksnya adalah waktu itu Aram dan Israel tidak berperang. Kemudian Yosafat, raja Yehuda mendatangi besannya, Ahab, raja Israel (bdk. 2Taw. 18:1). Lalu, Ahab bertanya kepada para pegawainya tentang Ramod-Gileat dan ia berikhtiar ingin merebutnya dari tangan orang Aram. Ia bertanya kepada Yosafat, apakah ia juga mau ikut? Yosafat setuju, tetapi ia ingin mendapatkan firman Tuhan terlebih dahulu sebelum berangkat merebut Ramod-Gileat (ay. 5). Kemudian Ahab mengumpulkan 400 nabi dan bertanya apakah ia boleh pergi berperang melawan Ramod-Gileat, lalu para nabi memberi jawaban positif yaitu “Majulah! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.” (ay. 6) Namun, Yosafat tidak puas dengan jawaban itu, maka ia bertanya apakah ada nabi Tuhan lain (ay. 7). Perhatikan jawaban Ahab di ayat 8, “Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN. Tetapi aku membenci dia, sebab tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka. Orang itu ialah Mikha bin Yimla.” (bdk. ay. 17) Karena Ahab tidak menyukai nubuat Mikha yang bernada negatif, maka Mikha dipenjarakan (ay. 26-27). Namun, apa yang terjadi? Nubuat mana yang terjadi: 400 “nabi” dengan “nubuat” palsunya ataukah dari Mikha? Jelas, nubuat nabi Mikha yang terjadi dan kisah ini berakhir tragis dengan dibunuhnya Ahab, raja Israel (ay. 34-40).
Dari kisah ini, kita belajar dua sosok raja: Ahab, raja Israel adalah seorang raja yang jahat di mata Tuhan, sehingga ia hanya mau mendengarkan apa yang menyenangkan baginya, sedangkan Yosafat, raja Yehuda adalah sosok raja yang cinta Tuhan (1Raj. 22:43), sehingga ia peka jika ada nubuat palsu. Akibatnya, Tuhan memberkati kerajaannya (2Taw. 17:3). Apa relevansinya bagi kita yang hidup di zaman sekarang? Di zaman ini, kata “nubuat” begitu laris di dalam Kekristenan, namun sayangnya semua “nubuat” tersebut berisi hal-hal positif, misalnya: “Indonesia masuk tahun keemasan”, “Indonesia masuk tahun penuaian”, “pemulihan terjadi”, dll? Hal ini sangat kontras dengan isi nubuat di dalam Perjanjian Lama.
Kisah lain adalah firman Tuhan kepada Yeremia di Yeremia 14. Waktu itu, Tuhan berfirman kepada Yeremia agar Yeremia tidak mendoakan kebaikan bangsa Israel, karena Ia akan menghukum mereka dengan perang, kelaparan, dan penyakit sampar (ay. 11-12). Lalu, Yeremia bertanya kepada Tuhan, bukankah para nabi telah berkata kepada orang-orang Israel bahwa tidak ada lagi perang dan kelaparan, tetapi damai sejahtera? (ay. 13) Perhatikan apa jawab Tuhan kepada Yeremia di ayat 14-16,
Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri. Sebab itu beginilah firman TUHAN mengenai para nabi yang bernubuat demi nama-Ku, padahal Aku tidak mengutus mereka, dan yang berkata: Perang dan kelaparan tidak akan menimpa negeri ini--: Para nabi itu sendiri akan habis mati oleh perang dan kelaparan! Dan bangsa yang kepadanya mereka bernubuat akan tercampak mati di jalan-jalan Yerusalem, disebabkan oleh kelaparan dan perang, dan tidak ada orang yang akan menguburkan mereka: mereka sendiri, isteri-isteri mereka, anak-anak mereka yang laki-laki dan yang perempuan. Demikianlah akan Kutumpahkan kejahatan mereka ke atas mereka. 
Di ayat-ayat di atas, Tuhan Allah dengan jelas berkata bahwa mereka yang menubuatkan hal-hal yang seolah-olah dari Allah (bernada positif) ternyata adalah para “nabi” palsu dan Allah menghukum mereka dengan perang dan kelaparan. Lagi-lagi, nubuat sejati tidak pernah menjanjikan kesuksesan, kelancaran, dll tanpa bayar harga! Jadi, jika di zaman sekarang, muncul “nubuat” yang berisi hal-hal positif, patut dipertanyakan, apakah itu nubuat asli atau palsu?

Setelah mempelajari pengertian nubuat di dalam Alkitab khususnya Perjanjian Lama, lalu apa arti karunia bernubuat? Apakah itu berarti karunia meramal? TIDAK. Ketika kita memperhatikan penjelasan makna nubuat di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka kita mendapatkan penjelasan bahwa nubuat adalah pemberitaan kehendak Allah kepada umat-Nya melalui para nabi-Nya. Jadi, nubuat tidak harus berarti ramalan masa depan. Oleh karena itu, mengutip Prof. David E. Garland, Ph.D., karunia bernubuat adalah karunia menyatakan kehendak Allah kepada umat-Nya.[15] Dan karunia bernubuat ini bisa bersifat masa lalu, masa kini, dan masa depan, seperti apa yang telah dijelaskan Alkitab di atas.
Namun, patut diperhatikan karunia bernubuat sebagaimana halnya dengan nubuat yang telah dijelaskan Alkitab di atas juga bisa mengandung kesalahan. Kesalahan terletak tentu bukan pada diri Allah, tetapi pada orang yang menerima nubuat dari Allah tersebut. Oleh karena itu, setelah karunia bernubuat, Paulus menyebutkan pentingnya karunia membedakan bermacam-macam roh di bawah ini (akan dibahas minggu depan).



Catatan kaki:
[1] Lebih tepat diterjemahkan: nubuat, karena menggunakan kata ini berbentuk kata benda.
[2] Seharusnya berbentuk jamak: nibbü’îm. Dalam Septuaginta, kata ini juga berbentuk jamak (ἐπροφήτευον; eprophēteuon)
[3] D. L. Baker dan A. A. Sitompul, Kamus Singkat Ibrani Indonesia, hlm. 40.
[4] Ibid., hlm. 41.
[5] Jeane Ch. Obadja, Survei Ringkas Perjanjian Lama (Surabaya: Momentum, 2004), hlm. 67.
[6] Ibid., hlm. 65.
[7] Andrew E. Hill dan John H. Walton, Survei Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2008), hlm. 347, 357.
[8] Dikutip dari Yesaya 6:9-10.
[9] Dikutip dari Yesaya 29:13.
[10] J. A. Motyer, “Nubuat, nabi-nabi,” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, ed. J. D. Douglas, terj. R. Soedarmo, dkk (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1995), hlm. 163.
[11] Ibid., hlm. 164.
[12] David E. Garland, 1 Corinthians, hlm. 583.
[13] Perlu diingat, ketiga kriteria di bawah saling berkaitan erat. Misalnya, jika ada nubuat yang terjadi di masa depan, namun hasil akhirnya menuntun orang kepada ilah lain di luar Allah, maka tetap itu dikategorikan sebagai nubuat palsu. Ketika saya share hal ini kepada teman Kristen saya di sebuah grup di BlackBerry Messenger, seorang rekan Kristen bertanya, bagaimana dengan nubuat keselamatan atau datangnya Mesias, apakah itu bisa dikategorikan nubuat palsu? Tidak. Mengapa? Karena meskipun nubuat keselamatan atau datangnya Mesias bersifat positif, namun hasil akhirnya tetap menuntun umat-Nya kepada Allah yang sejati dan toh nubuat itu sudah terjadi, jadi itu jelas bukan nubuat palsu.
[14] Jeane Ch. Obadja, Survei Ringkas Perjanjian Lama (Surabaya: Momentum, 2004), hlm. 20.
[15] David E. Garland, 1 Corinthians, hlm. 582.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 9: Karunia Pembedaan Roh (1Kor. 12:10)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Setelah membicarakan karunia nubuat, Paulus mendaftarkan karunia berikutnya yaitu membedakan bermacam-macam roh. Kata “membedakan” dalam teks Yunaninya διακρίσεις (diakriseis) yang merupakan kata benda yang berfungsi sebagai subjek kalimat (nominatif), berbentuk feminin dan jamak dari kata διάκρισις (diakrisis) yang berarti perbedaan. Kata Yunani ini juga dipakai di dalam Ibrani 5:14 di mana LAI menerjemahkannya sebagai “membedakan.” Kemudian kata “bermacam-macam roh” dalam teks Yunaninya πνευμάτων (pneumatōn) berbentuk kata benda, berfungsi sebagai kepemilikan (genitif), netral dan jamak dari kata πνεῦμα (pneuma). Kata πνευμάτων (pneumatōn) ini berarti roh-roh. Jadi, dari studi kata ini, terjemahan yang lebih tepat adalah pembedaan roh-roh.[1]
Lalu, apa arti karunia pembedaan roh-roh? Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D. menafsirkan karunia ini dengan mengaitkannya dengan karunia nubuat di poin 6 di atas dengan referensi 1 Korintus 14:29.[2] Prof. Dr. David L. Baker mengungkapkan hal serupa dengan menyatakan kaitannya secara langsung,
Setiap nabi harus diuji kebenarannya, baik dari segi teologi maupun berdasarkan etika… Namun sebenarnya kedua asas tersebut bersifat agak umum dan tidak selalu cukup untuk menentukan sumber suatu nubuat. Belum pasti setiap nabi yang berteologi tepat dan berlaku baik adalah nabi benar. Oleh sebab itu Tuhan memberi karunia “pembedaan roh-roh” (diakresis pneumatōn), yang berfungsi membedakan antara ilham yang berasal dari Roh Kudus dan ilham yang berasal dari roh-roh lain…[3]
Sedangkan Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. menafsirkannya sebagai karunia pembedaan antara kuasa dari roh setan dari Roh Kudus (1Yoh. 4:1-6).[4]
Saya pribadi lebih memilih menggabungkan dua tafsiran di atas. Pertama-tama, tentu saja karunia pembedaan roh-roh menunjuk pada pembedaan antara roh setan vs Roh Kudus, karena kalau kita memperhatikan konteksnya khususnya di 1 Korintus 12:3, Paulus menjelaskan bahwa kuasa Roh Kudus berkaitan dengan pengakuan bahwa Kristus sebagai Tuhan. Dan kalau kita kembali melihat pengajaran Kristus, maka kita belajar bahwa Roh Kudus datang untuk bersaksi tentang dan memuliakan Kristus (Yoh. 15:26; 16:14), sehingga siapa pun yang mengaku diilhamkan “Roh Kudus” tetapi tidak memuliakan Kristus, berarti orang itu jelas tidak dipenuhi Roh. Pembedaan roh juga didasarkan pada sisi kemanusiaan Kristus, di mana roh yang tidak mengakui Kristus juga datang dari Allah dalam daging, maka itu adalah roh setan, sedangkan roh yang mengakui kemanusiaan Kristus adalah Roh Kudus (1Yoh. 4:1-3).
Kedua, pembedaan roh-roh juga berkaitan dengan nubuat. Sebagaimana telah saya paparkan panjang lebar tentang konsep nubuat di poin 6 di atas di dalam Perjanjian Lama di mana ada nabi asli vs nabi palsu, maka nubuat pun ada yang asli dan palsu, dan karunia pembedaan roh-roh ini dimaksudkan untuk membedakan manakah nubuat yang asli vs palsu. Paulus mengulang hal ini, seperti yang dipaparkan oleh Dr. Fee, di dalam 1 Korintus 14:29, “Tentang nabi-nabi baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan.” Kita mungkin bingung: di dalam ayat ini, kita tidak menemukan kata “membedakan”, lalu bagaimana mungkin ayat ini berkaitan dengan karunia pembedaan roh-roh? Jika kita membaca terjemahan Indonesia, kita tidak akan mendapatkan kata “membedakan”, namun ketika mencoba melihat dari teks Yunaninya, kita menemukan ada kata Yunani: διακρινέτωσαν (diakrinetōsan) di mana kata ini berbentuk kata kerja dan berbentuk perintah (imperatif) dari kata διακρίνω (diakrinō). Kata ini di dalam teks LAI diterjemahkan, “menanggapi”, yang seharusnya diterjemahkan “membedakan.” Dengan kata lain, maksud ayat ini adalah seseorang yang mendapat karunia nubuat, minimal 2 dan maksimal 3 orang yang berkata-kata, lalu orang yang lain yang hadir membedakan apakah yang dikatakan berasal dari Roh Kudus atau roh setan.



Catatan Kaki:
[1] KJV dan YLT: “discernings of spirits.” New American Standard Bible (NASB): “the distinguishing of spirits.” New International Version (NIV): “distinguishing between spirits.” Dalam hal ini, English Standard Version (ESV) dan Revised Standard Version (RSV) salah menerjemahkannya, “the ability to distinguish between spirits”, karena kata Yunani yang dipakai untuk “distinguish” adalah kata benda, bukan kata kerja.
[2] Gordon D. Fee, God’s Empowering Presence, hlm. 171-172.
[3] David L. Baker, Roh dan Kerohanian Dalam Jemaat: Tafsiran Surat 1Kor. 12-14 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hlm. 64.
[4] D. A. Carson, Showing the Spirit, hlm. 31.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 10: Karunia Bahasa-bahasa Lidah (1Kor. 12:10, 28)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Karunia berikutnya yang dibahas Paulus adalah karunia bahasa (lidah). Kata Yunani yang dipakai adalah γλωσσῶν (glōssōn) yang bisa berarti bahasa atau lidah. Kata ini merupakan kata benda, berfungsi sebagai kepemilikan (genitif), feminin, dan jamak dari kata γλῶσσα (glōssa). Kata γλωσσῶν (glōssōn) juga ditemukan di dalam Perjanjian Lama, di mana kata ini dalam Ibrani: lüšönôt yang bisa berarti lidah (Mzm. 31:21) atau bahasa (Zak. 8:23). Kata Yunani yang sama namun berfungsi sebagai objek tak langsung (datif), feminin, dan tunggal yaitu γλώσσῃ (glōssei) diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani sebagai: lüšönô (dengan perluasan dari kata ini) juga bisa berarti lidah (Mzm. 15:3 {Septuaginta: 14:3}; 39:2, 4; 78:36; 109:2; 139:4; Ams. 17:20; 21:6; 31:25; Ayb. 6:30; Yeh. 3:6; Yeh. 36:3[1]) dan bahasa (Yes. 19:18[2]; Yer. 18:18[3]). Dengan kata lain, karunia ini lebih tepat diterjemahkan sebagai karunia bahasa-bahasa (lidah).
Pertanyaan selanjutnya, apa itu bahasa lidah?
Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. menafsirkannya,
…tongues may bear cognitive information even though they are not known human languages – just as a computer program is a ‘language’ that conveys a great deal of information, even though it is not a ‘language’ that anyone actually speaks. You have to know the code to be able to understand it. Such a pattern of verbalization could not be legitimately dismissed as gibberish. It is as capable of conveying prepositional and cognitive content as any known human language…[4]
…bahasa-bahasa lidah mungkin menghasilkan informasi kognitif meskipun bahasa-bahasa tersebut tidak dikenal sebagai bahasa-bahasa manusia – seperti program komputer adalah ‘bahasa’ yang menyampaikan informasi yang begitu penting, meskipun itu bukan ‘bahasa’ sesungguhnya yang siapa saja katakan. Anda harus mengetahui kode untuk dapat mengertinya. Seperti bentuk ungkapan tidak dapat ditolak sebagai ocehan. Itu mampu menyampaikan isi yang preposisional dan kognitif seperti bahasa manusia lainnya...
Senada dengan pandangan Dr. D. A. Carson, Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D. mengungkapkan beberapa hal tentang bahasa lidah: [5]
a)            Bahasa lidah diinspirasikan Roh Kudus (1Kor. 12:7, 11; bdk. 1Kor. 14:2)
b)            Peraturan penggunaan bahasa lidah di dalam 1 Korintus 14:27-28 menunjukkan bahwa orang yang berbahasa lidah tidak dalam keadaan “ekstasi” atau tidak sadarkan diri. Sebaliknya, orang yang berbahasa lidah harus berbicara silih berganti dan jika tidak ada yang menafsirkan, maka orang tersebut harus diam.
c)             Bahasa lidah tidak dimengerti baik oleh orang yang mengucapkannya (1Kor. 14:14) maupun oleh orang lain (1Kor. 14:16)
d)            Bahasa lidah adalah bahasa yang ditujukan kepada Allah (1Kor. 14:2, 14-15, 28), sehingga kata-kata di dalamnya merupakan misteri yang diucapkan kepada Allah.
Dari dua pengertian yang dipaparkan baik oleh Dr. D. A. Carson maupun Dr. Gordon D. Fee, kita mendapatkan penjelasan beberapa poin tentang bahasa lidah:[6]
a)            Bahasa lidah adalah bahasa yang diinspirasikan Roh Kudus dan bukan bahasa manusia biasa dan ini seharusnya dipergunakan secara pribadi.
b)            Meskipun orang yang berbahasa lidah diinspirasikan Roh Kudus, orang tersebut bukan dalam keadaan tidak sadarkan diri (trance), tetapi harus sadar.
c)             Ketika di dalam kebaktian jemaat, jika ada orang yang mendapat karunia ini, maka di saat yang sama, harus ada orang yang menafsirkannya, sehingga jemaat dapat dibangun, karena jikalau tidak ditafsirkan, jemaat tidak mengerti (mengingat bahasa lidah bukan bahasa manusia biasa).



Catatan kaki:
[1] LAI: “mulut”, sedangkan YLT: “tongue” (lidah).
[2] ESV, KJV, NIV, NASB, dan RSV: “language” (bahasa), sedangkan YLT: “lip” (bibir).
[3] LAI: “bahasa”, sedangkan ESV, KJV, NIV, NASB, RSV, dan YLT: “tongue” (lidah). Menurut konteksnya, terjemahan “bahasa” dalam LAI lebih tepat daripada terjemahan lain.
[4] D. A. Carson, Showing the Spirit, hlm. 85-86.
[5] Gordon D. Fee, God’s Empowering Presence, hlm. 172-173.
[6] Hal ini akan dibahas secara detail di dalam buku saya yang lain yang berjudul: “Bahasa Lidah: Masih Adakah?”



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 11: Karunia Penafsiran Bahasa Lidah (1Kor. 12:10)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Sebagaimana karunia nubuat harus disertai karunia pembedaan roh-roh, maka karunia bahasa lidah harus disertai karunia penafsiran bahasa lidah. Kata Yunani yang dipakai adalah ἑρμηνεία γλωσσῶν (hermēneia glōssōn). Kata ἑρμηνεία (hermēneia) yang berbentuk kata benda berarti penafsiran dan γλωσσῶν (glōssōn) berarti bahasa/lidah, sehingga artinya penafsiran bahasa/lidah. Kata ἑρμηνεία (hermēneia) sebagai kata benda hanya ditemukan di 1 Korintus 12:10 dan 1 Korintus 14:26[1] di mana semuanya berkaitan dengan karunia penafsiran bahasa. Kata kerjanya adalah ἑρμηνεύω (hermeneuō) dipakai 3x di dalam Perjanjian Baru, yaitu di Yohanes 1:42[2]; 9:7[3]; Ibrani 7:2[4].[5]
Lalu, apa arti penafsiran bahasa lidah? Apakah ini berarti bahasa lidah itu diterjemahkan kata per kata? Tidak. Kalau kita memperhatikan kembali definisi bahasa lidah di mana bahasa lidah ini bukan bahasa manusia biasa, maka menafsirkan bahasa lidah tentu bukan menafsirkan kata per kata dalam bahasa tersebut. Oleh karena itu, sangat tepat jika kata ἑρμηνεία (hermēneia) diterjemahkan sebagai penafsiran (bukan penerjemahan). Prof. David E. Garland, Ph.D. mengungkapkan arti dari penafsiran bahasa lidah, “It is not a word-for-word translation but more likely an interpretation of the meaning of what was said, the “mysteries” spoken to God, or an explanation of the experience.”[6] (Itu bukan penerjemahan kata per kata, tetapi lebih mungkin sebuah penafsiran arti dari apa yang dikatakan, “misteri” yang diucapkan kepada Allah, atau penjelasan pengalaman.) Prof. Anthony Thiselton, Ph.D., D.D. menafsirkan “penafsiran bahasa lidah” ini sebagai penguraian/pengungkapan dengan perkataan (to put into words).[7]
Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan karunia penafsiran bahasa lidah berarti seseorang diberikan karunia untuk menafsirkan bahasa lidah ke dalam beberapa kalimat penguraian di dalam bahasa yang dapat dimengerti.


Catatan kaki:
[1] Hasan Sutanto, PBIK Jilid II: Konkordansi Perjanjian Baru, hlm. 316.
[2] LAI: “artinya.” YLT: “which is interpreted” (yang diartikan/diterjemahkan)
[3] LAI: “artinya”; YLT: “which is, interpreted” (yang diartikan)
[4] LAI: “Menurut arti namanya.” YLT: “being intepreted” (diartikan).
[5] Hasan Sutanto, Konkordansi Perjanjian Baru, hlm. 316. Khusus ἑρμηνεύω (hermeneuō), sesuai konteksnya, kata kerja ini diterjemahkan sebagai “diartikan/diterjemahkan.”
[6] David E. Garland, 1 Corinthians, hlm. 586.
[7] David L. Baker, Roh dan Kerohanian Dalam Jemaat, hlm. 66.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 12: Karunia Bantuan (1Kor. 12:28)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Setelah mendaftarkan karunia-karunia nubuat, bahasa lidah, dan penafsiran bahasa lidah, maka Paulus memunculkan karunia bantuan-bantuan. Kalau kita menyimak 1 Korintus 12:28, maka di teks LAI tidak dijumpai kata bantuan, tetapi melayani. Teks Yunani dari “melayani” adalah ἀντιλήμψεις (antilēmpseis) yang merupakan kata benda berfungsi sebagai objek langsung (akusatif), feminin, dan jamak dari kata ἀντίλημψις (antilēmpsis). Dari teks ini, berarti lebih tepat jika diterjemahkan sebagai karunia bantuan-bantuan. Young’s Literal Translation (YLT) menerjemahkan, “helpings” (pertolongan-pertolongan). New American Standard Bible (NASB) dan King James Version (KJV) menerjemahkannya, “helps” (pertolongan-pertolongan). New International Version (NIV) menerjemahkannya, “able to help others” (yang dapat menolong orang lain). Terjemahan NIV kurang sesuai dengan teks Yunaninya, karena terjemahan ini menggunakan kata kerja, sedangkan teks Yunaninya berbentuk kata benda.
Apa arti karunia bantuan-bantuan? Sesuai dengan konteksnya di 1 Korintus, maka tentu maksud Paulus adalah bantuan-bantuan di dalam pembangunan tubuh Kristus yaitu gereja, bisa berupa pertolongan kepada saudara seiman yang lemah iman, kekurangan biaya, sakit, dll. Hal ini mirip seperti yang dikatakan oleh Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D. yang mengaitkan bantuan-bantuan ini dengan kebutuhan fisik dan rohani dari orang lain di dalam komunitas.[1]


[1] Gordon D. Fee, God’s Empowering Presence, hlm. 193


MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 13: Karunia Administrasi (1Kor. 12:28)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Selain karunia bantuan-bantuan, Paulus mendaftarkan karunia administrasi atau dalam terjemahan LAI: “karunia memimpin.” Teks Yunaninya adalah κυβερνήσεις (kybernēseis) merupakan kata benda yang berfungsi sebagai objek langsung (akusatif), feminin, dan jamak dari kata κυβέρνησις (kybernēsis) yang artinya guidance (pimpinan) atau leadership (kepemimpinan) atau administration (administrasi/pengelolaan).[1] Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D. mengaitkan kata ini dengan kata Yunani di Kisah Para Rasul 27:11[2] dan Wahyu 18:17[3] yang berarti pengemudi kapal atau pilot. Beliau juga mengatakan bahwa kata ini juga dipakai dalam LXX (Septuaginta), yaitu di: Amsal 1:5[4]; 11:14[5]; 24:6[6].[7]
Jika demikian, apa arti karunia administrasi? Sesuai dengan studi kata di atas, maka jelaslah karunia administrasi berarti karunia untuk memimpin jemaat. Hal ini dijelaskan oleh Prof. David E. Garland, Ph.D. sebagai, “the gift of setting the direction and guiding a community, not just employing “administrative skills.”[8] (karunia mengatur arah dan memimpin komunitas, bukan sekadar memakai “kemampuan administratif”.)



Catatan kaki:
[1] Horst Balz dan Gerhard Schneider, ed., Exegetical Dictionary of the New Testament (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans, 1990), hlm. 326; bdk. James Swanson, A Dictionary of Biblical Languages: Greek New Testament, Logos Research Systems, Inc.
[2] Teks Yunaninya: κυβερνήτῃ (kybernētē); LAI: “jurumudi.”
[3] Teks Yunaninya: κυβερνήτης (kybernētēs); LAI: “nahkoda.”
[4] Teks Ibraninya: taHbūlôt yang berarti steering, shrewd guidance (kemudi, bimbingan yang tepat); YLT: “counsels” (nasihat-nasihat/saran/saran); LAI: “bahan pertimbangan.”
[5] Teks Ibrani dan YLT sama dengan teks Ibrani dan terjemahan YLT di Amsal 1:5, namun LAI menerjemahkan Amsal 11:14, “pimpinan.”
[6] Teks Ibrani dan YLT sama dengan teks Ibrani dan terjemahan YLT di Amsal 1:5 dan 11:14, namun LAI menerjemahkan Amsal 24:6, “perencanaan.”
[7] Ibid.
[8] David E. Garland, 1 Corinthians, hlm. 599.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 14: Karunia Pelayanan (Rm. 12:7)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Setelah menjelaskan tentang karunia pimpinan/administrasi, maka saat ini mulai poin 12 hingga akhir, kita akan beralih ke nats Roma 12 untuk mendaftarkan karunia-karunia Roh Kudus yang lain yang Paulus sebutkan. Di poin pertama di Roma 12, Paulus menyebutkan karunia pelayanan. Teks LAI menerjemahkannya, “melayani”, padahal teks Yunani yang dipakai: διακονίαν (diakonian) berbentuk kata benda, berfungsi sebagai objek langsung (akusatif), feminin, dan tunggal dari kata διακονία (diakonia). ESV, NASB, dan RSV sama-sama menerjemahkannya, “service” (pelayanan), sedangkan ALT, EMTV, KJV, dan LITV menerjemahkannya, “ministry” (pelayanan).
Lalu, apa artinya karunia pelayanan? Ketika kembali menyelidiki kata διακονίαν (diakonian) maupun kata διακονία (diakonia), kata ini mayoritas merujuk pada pelayanan secara umum kepada Allah. Misalnya, kata διακονίαν (diakonian) yang terdapat di: Lukas 10:40; Kisah Para Rasul 11:29; 12:25; 20:24; Roma 11:13; 1 Korintus 16:15; 2 Korintus 4:1; 5:18; 11:8; Kolose 4:17; 1 Timotius 1:12; 2 Timotius 4:5, 11; dan Wahyu 2:19. Khusus kata διακονίαν (diakonian) di Ibrani 1:14 tidak merujuk pada pelayanan kepada Allah, karena konteks menunjukkan bahwa itu pelayanan kepada manusia. Lalu, kata διακονία (diakonia) juga mayoritas merujuk pada pelayanan kepada Allah dan Kristus yaitu di: 2 Korintus 3:7, 8, 9; 6:3; 9:12. Namun, ada juga pengertian lain tentang pelayanan di sini, yaitu pelayanan kepada orang yang membutuhkan, misalnya di: Matius 25:44[1]; Kisah Para Rasul 6:1-2[2]; dan Roma 15:25[3].[4]
Jika demikian, apa arti pelayanan? Apakah artinya merujuk pada arti pelayanan secara umum atau secara khusus? Beberapa ada yang mengartikannya: pelayanan secara umum, namun benarkah penafsiran ini? Mari kita memperhatikan konteks Roma 12 secara keseluruhan. Setelah dua ayat pertama di pasal 12 membahas tentang kita harus diubah akal budi kita, supaya dapat mengenal kehendak Allah, maka di ayat 3-5, Paulus berbicara tentang kesatuan tubuh Kristus. Di dalam kesatuan tubuh Kristus, Paulus menasihatkan, “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita:” (ay. 6a) Di dalam kesatuan tubuh Kristus terdapat berbagai macam karunia (gift) yang berlainan/berbeda menurut pemberian Allah kepada kita. Dengan kata lain, daftar karunia mulai ayat 6b-8 adalah variasi karunia berdasarkan pemberian Allah. Karunia pelayanan di ayat 7 adalah salah satu karunia yang didaftarkan Paulus. Jika karunia ini dimengerti sebagai pelayanan secara umum, maka apa bedanya Markus, Petrus, Paulus yang melayani dengan orang Kristen tertentu yang memiliki karunia pelayanan? Perlu diperhatikan, semua orang Kristen harus melayani Allah secara umum, namun beberapa orang diberi karunia khusus untuk melayani. Yang dimaksud karunia pelayanan di sini adalah karunia khusus di dalam pembangunan tubuh Kristus (bdk. 1Kor. 12). Emeritus Profesor of Theology di University of Durham, U.K., Prof. C. E. B. Cranfield menafsirkannya sebagai, “the spiritual capacity for practical service.”[5] (kapasitas rohani bagi pelayanan praktis) Karunia pelayanan di dalam pembangunan tubuh Kristus bisa berupa karunia melayani jemaat baik dalam hal rohani maupun jasmani.

Catatan kaki:
[1] Kata Yunaninya: διηκονήσαμέν (diēkonēsamen) yang merupakan kata kerja indikatif aorist aktif, orang pertama jamak dari kata διακονέω (diakoneō).
[2] Di ayat 1, kata Yunaninya: διακονίᾳ (diakoniai) yang merupakan kata benda yang berfungsi sebagai objek tidak langsung (datif), feminin, dan tunggal dari kata διακονία (diakonia). Sedangkan di ayat 2, kata Yunaninya: διακονεῖν (diakonein) yang merupakan kata kerja infinitif, present, aktif dari kata διακονέω (diakoneō).
[3] Kata Yunaninya: διακονῶν (diakonōn) yang merupakan kata kerja partisipel, present, aktif, nominatif, maskulin, dan tunggal dari kata διακονέω (diakoneō).
[4] C. E. B. Cranfield, A Critical and Exegetical Commentary on The Epistle to the Romans (London; New York: T&T Clark International, 2004), hlm. 621.
[5] Ibid., hlm. 623.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 15: Karunia Mengajar (Rm. 12:7)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Setelah melayani, maka Paulus mendaftarkan karunia mengajar. Kata Yunani yang dipakai adalah διδάσκων (didaskōn) yang merupakan kata kerja participle, present, aktif, nominatif, maskulin, dan tunggal dari kata διδάσκω (didaskō) yang berarti mengajar. Kata ini dijumpai di: Markus 1:21[1]; Kisah Para Rasul 15:35[2]; 1 Korintus 11:14[3]; Kolose 3:16[4]; Wahyu 2:14[5]. Di dalam Perjanjian Lama, kata “mengajar” dalam teks Ibraninya adalah limmad dapat dijumpai di dalam Yeremia 31:34[6].[7]
Lalu, apa artinya karunia mengajar ini? Kembali, ketika memperhatikan konteks Roma 12 mulai ayat 3, kita mengerti bahwa semua karunia yang dibahas Paulus mulai ayat 6b s/d 8 berkaitan erat dengan kesatuan tubuh Kristus meskipun ada berbagai macam karunia (ay. 5). Kemudian, karunia-karunia yang dibicarakan Paulus ini adalah karunia-karunia Roh Kudus, maka ketika kita menyimak kembali apa peranan Roh Kudus, kita akan mengerti bahwa Roh Kudus diutus untuk “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh. 14:26) Kata “mengajar” dalam Yohanes 14:26 ini dalam bahasa Yunaninya adalah διδάξει (didaxei) yang memiliki akar kata yang sama dengan karunia mengajar yang dibahas Paulus di Roma 12:7 yaitu διδάσκω (didaskō). Dari sini, kita belajar bahwa karunia mengajar berkaitan erat dengan mengajar apa yang Kristus ajarkan di dalam Injil.
Selain berkaitan erat dengan apa yang Kristus ajarkan, karunia mengajar juga berkaitan dengan pengajaran tradisi Perjanjian Lama. Kata “mengajar” yang berfungsi sebagai jabatan (pengajar) dalam teks Yunaninya: διδάσκαλος (didaskalos) terdapat di Kisah Para Rasul 13:1[8]; 1 Korintus 12:28–29[9]; Efesus 4:11.[10] Kalau kita memperhatikan konteks ketiga nats di atas, maka tentu saja pengajaran bukan hanya berkaitan erat dengan apa yang Kristus ajarkan dan lakukan, tetapi juga tradisi Perjanjian Lama yang dikaitkan dengan Injil. Sebagai perluasannya, kita bisa mengerti bahwa karunia pengajaran juga berkaitan dengan semua ajaran Alkitab dari Kejadian s/d Wahyu. Dengan kata lain, orang yang diberi karunia mengajar menunaikan tugasnya yaitu mengajar jemaat Tuhan tentang Alkitab.
Tetapi, apakah orang yang dikaruniai karunia mengajar hanya bertugas mengajar? Prof. C. E. B. Cranfield mencerahkan pikiran kita ketika menyelidiki Efesus 4:11, di mana “teachers and pastors apparently being regarded as one group”[11] (para pengajar dan para gembala dengan jelas dianggap sebagai satu kelompok), karena kedua kata benda ini memiliki artikel yang sama. Mari kita perhatikan teks Yunani dari Efesus 4:11 berikut ini:
καὶ αὐτὸς ἔδωκεν τοὺς μὲν ἀποστόλους τοὺς δὲ προφήτας τοὺς δὲ εὐαγγελιστάς τοὺς δὲ ποιμένας καὶ διδασκάλους
kai autos edōken tous men apostolous tous de prophētas tous de euangelistas tous de poimenas kai didaskalous
Kata Yunani τοὺς (tous) ini merupakan kata sandang/artikel (Ing.: the) yang berfungsi maskulin dan jamak yang nantinya diikuti oleh kata benda yang berbentuk maskulin dan jamak (apostolous, prophētas, euangelistas, poimenas didaskalous merupakan kata benda yang berjenis kelamin maskulin dan jamak). Di dalam teks di atas, kita menemukan 4 kata τοὺς (tous), namun antara kata ποιμένας (poimenas) dan διδασκάλους (didaskalous) tidak dipisahkan dengan kata τοὺς (tous), tetapi hanya kai (dan). Dengan demikian, hal ini berarti poimenas (pastors/gembala-gembala) dan didaskalous (teachers/pengajar-pengajar) merupakan satu kesatuan jabatan. Di dalam Alkitab terjemahan Inggris, saya lebih memilih terjemahan English Standard Version (ESV) dibandingkan dengan beberapa versi lain, karena versi ini lebih sesuai dengan teks Yunaninya, di mana ESV menerjemahkannya, “the apostles, the prophets, the evangelists, the pastors and teachers,” (para rasul, para nabi, para penginjil, dan para gembala dan pengajar). Tidak adanya penggunaan artikel the di depan kata teachers (para pengajar) membuktikan bahwa gembala dan pengajar merupakan satu kesatuan jabatan.
Jadi, orang yang diberi karunia mengajar bukan hanya bertugas mengajar jemaat tentang prinsip-prinsip firman Tuhan, tetapi juga menggembalakan mereka. Di sini, Paulus mengaitkan pengajaran dengan penggembalaan di mana antara “teori” dan praktik harus terintegrasi. Ada beberapa pelayan Tuhan yang terus gemar mengajar doktrin Kristen, tetapi mengabaikan penggembalaan. Ini jelas salah, karena Alkitab sendiri menggabungkan antara gembala dan pengajar.



Catatan kaki:
[1] Kata Yunaninya: διδάσκων (didaskōn); LAI: “mengajar”.
[2] Kata Yunaninya: διδάσκοντες (didaskontes); LAI: “mengajar”.
[3] Kata Yunaninya: διδάσκει (didaskei); LAI: “menyatakan”, YLT: “teach”.
[4] Kata Yunaninya: διδάσκοντες (didaskontes); LAI: “mengajar”.
[5] Kata Yunaninya: ἐδίδασκεν (edidasken); LAI: “memberi nasihat”.
[6] Teks Ibraninya: lammüdû. Di dalam Septuaginta, kata Yunani yang dipakai: διδάξωσιν (didaxōsin) yang merupakan kata kerja, subjunktif, aorist, aktif, orang ketiga jamak dari kata διδάσκω (didaskō).
[7] D. L. Baker dan A. A. Sitompul, Kamus Singkat Ibrani-Indonesia, hlm. 35.
[8] Kata Yunani yang dipakai: διδάσκαλοι (didaskaloi) yang merupakan kata benda berfungsi sebagai subjek kalimat (nominatif), maskulin, dan jamak dari kata διδάσκαλος (didaskalos).
[9] Di ayat 28, kata Yunani yang dipakai: διδασκάλους (didaskalous) yang merupakan kata benda berfungsi sebagai objek langsung (akusatif), maskulin, jamak dari kata διδάσκαλος (didaskalos), sedangkan di ayat 29, kata Yunani yang dipakai sama dengan kata Yunani di Kisah Para Rasul 13:1.
[10] Thomas R. Schreiner, Baker Exegetical Commentary on the New Testament: Romans (Vol. 6) (Grand Rapids, Michigan: Baker Books, 1998), 658.
[11] C. E. B. Cranfield, A Critical and Exegetical Commentary on the Epistle to the Romans, 623.



MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 16: Karunia Menasihati (Rm. 12:8)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Setelah mengajar, maka Paulus menyebut karunia yang lain yaitu menasihati. Kata Yunani yang dipakai adalah παρακαλῶν (parakalōn) yang merupakan kata kerja participle, present, aktif, nominatif, maskulin, tunggal dari kata παρακαλέω (parakaleō) yang berarti request, urge; comfort[1] (meminta/memohon, mendesak/mendorong; menghibur/membantu). Kata ini atau bentuk kata bendanya yaitu παράκλησις (paraklēsis) merupakan istilah yang paling penting untuk berbicara dan mempengaruhi di dalam Perjanjian Baru.[2] Kata παρακαλῶν (parakalōn) sendiri selain di Roma 12:8, dipakai 8x di dalam Perjanjian Baru, yaitu di: Matius 8:5[3]; Markus 1:40[4]; Lukas 3:18[5]; Kisah Para Rasul 16:9[6]; 2 Korintus 1:4[7]; 7:6[8]; 1 Petrus 5:12[9]; dan Yudas 1:3[10]. Perbedaan terjemahan dari kata ini disesuaikan dengan konteksnya, sehingga ketika kata ini muncul di Roma 12:8 dengan konteks berbagai macam karunia di dalam satu tubuh Kristus (Rm. 12:3-5), maka tentu saja terjemahannya bukan karunia memohon, tetapi lebih tepat karunia menasihati atau mendorong/memberikan dorongan. ESV, NASB, dan RSV menerjemahkannya, “exhorts” (menasihati/mendorong), KJV menerjemahkannya, “exhorteth”, ALT, EMTV, LITV, dan YLT menerjemahkannya, “exhorting”, NIV dan ISV menerjemahkannya, “encouraging”.
Di dalam Perjanjian Lama, kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani sebagai: nam dapat dijumpai di dalam Ayub 29:25.[11]
Lalu, apa artinya karunia menasihati/memberi dorongan ini? Bukankah karunia ini mirip dengan karunia mengajar di ayat 7? Secara tujuan utama, karunia ini mungkin sama yaitu untuk mendidik jemaat untuk memuliakan Allah (perhatikan konteks Rm. 12), namun dari tujuan langsungnya, karunia mengajar berfungsi untuk memberi instruksi, informasi, dan menjelaskan iman Kristen kepada jemaat, sedangkan karunia karunia menasihati bertujuan secara praktis untuk mendorong jemaat yang telah diajar tersebut untuk taat kepada Kristus dan Alkitab.[12] Misalnya, orang yang diberi karunia mengajar melakukan tugasnya yaitu mengajar jemaat dengan prinsip-prinsip iman Kristen, contoh: Allah itu adalah Allah yang berdaulat yang menciptakan, menebus, dan menyempurnakan umat-Nya, lalu orang yang diberi karunia menasihati/memberi dorongan melakukan tugasnya yaitu mendorong jemaat yang telah diajar dengan prinsip-prinsip tersebut untuk mempraktikkannya dengan setia dan taat kepada Allah dan firman-Nya. Di sini, kita melihat adanya kemiripan antara karunia menasihati ini dengan jabatan gembala-pengajar seperti yang telah diuraikan di bagian sebelumnya (Bagian 15: Karunia Mengajar).




Catatan kaki:
[1] Horst Balz dan Gerhard Schneider, ed., Exegetical Dictionary of the New Testament Vol. 3, 23.
[2] Ibid.
[3] LAI: “memohon”.
[4] LAI: “memohon”.
[5] LAI: “nasihat”.
[6] LAI: “berseru”.
[7] LAI: “menghibur”.
[8] LAI: “menghiburkan”.
[9] LAI: “menasihati”.
[10] LAI: “menasihati”.
[11] LAI: “menghibur”. ESV, NIV, RSV, dan YLT: “comfort”.
[12] C. E. B. Cranfield, A Critical and Exegetical Commentary on the Epistle to the Romans, 623.

0 komentar:

Poskan Komentar